Header Ads

HOT !
recent

KESALAHAN PENGUJIAN KONSTRUKSI BANGUNAN PROYEK JALAN

Kesalahan Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang umum terjadi saat pengujian meliputi :Kesalahan Peralatan Laboratorium karena tidak dikalibrasi,  Kesalahan Faktor Manusia, misalnya salah baca, dsb,Kesalahan Prosedur Pengujian karena “Cara Melakukan” yang benar belum dipahami.
KESALAHAN PENGUJIAN KONSTRUKSI BANGUNAN PROYEK JALAN

Beberapa penyimpangan Prosedur Pengujian Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang sering dijumpai di lapangan :

Penyiapan Benda Uji dengan Gradasi Yang Bervariasi


Seringkali dilakukan pencampuran agregat dalam jumlah yang besar sebelum dipanaskan dengan proporsi yang sudah benar, akan tetapi pencampuran ini belum tentu memberikan keseragaman tiap benda uji. Ibarat memasak nasi goreng dalam jumlah yang besar, setelah dituang ke masing-masing piring, belum tentu komponen daging dan telur tersebut terdistribusi merata.

Setiap benda uji Konstruksi Bangunan Proyek Jalan harus mempunyai gradasi yang sama. Setelah pencampuran agregat dalam jumlah besar sebelum dipanaskan dengan proporsi yang benar selesai dikerjakan, maka agregat ini dikelompokkan lagi dalam berbagai fraksi sehingga segregasi dapat dihindarkan.

Contoh : 1” s/d ¾”; ¾” s/d ⅜”; ⅜” s/d No.4; No.4 s/d No.8; No.8 s/d debu

Seringkali rancangan campuran (mix design) Konstruksi Bangunan Proyek Jalan diubah, tetapi sisa material yang sudah dikelompokkan dalam beberapa fraksi ini masih cukup banyak dan digunakan untuk membuat benda uji dengan mix design baru. Meskipun material ini telah dikelompokkan dalam beberapa fraksi yang hampir single size, namun sebenarnya material ini berasal dari proporsi mix design Konstruksi Bangunan Proyek Jalan lama. 

Penggunaan Piknometer yang Salah 

Piknometer yang seharusnya digunakan untuk mencari berat jenis (specific gravity) agregat halus, berkapasitas 500 ml. Tetapi seringkali piknometer berkapasitas lebih besar atau lebih kecil digunakan untuk pengujian dengan alasan piknometer berkapasitas 500 ml pecah.

Bilamana digunakan pikno-meter yang lebih kecil maka benda uji Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang dimasukkan menjadi terbatas dan tidak dapat mewakili material yang akan diuji. Bilamana digunakan piknometer yang lebih besar maka leher piknometer juga besar sehingga kepekaan pem-bacaan tinggi muka air dalam piknometer menjadi berkurang.

Dengan demikian hasil pengujian Konstruksi Bangunan Proyek Jalan dengan kondisi sebagaimana disebutkan di atas seringkali memberikan nilai yang salah. Sebagai contoh, dari sumber (quarry) yang sama, agregat berbutir besar (kasar) mempunyai penyerapan yang lebih tinggi dari agregat berbutir halus (sampai debu). 

Kering Permukaan Jenuh yang Salah

Agregat Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang telah direndam akan diangkat dan kondisi Kering Permukaan Jenuh (Saturated Surface Dry) akan dibuat dengan membiarkan kelebihan air mengalir dan permukaan agregat di-lap dengan handuk. Permukaan agregat yang terlalu kering atau terlalu basah juga akan memberikan nilai Berat Jenis dan Penyerapan yang salah. 

 Abrasi Semu

Suatu agregat Konstruksi Bangunan Proyek Jalan setelah diuji dengan 500 putaran mesin Los Angeles meme-nuhi syarat, tetapi nilai ini semu karena sebenarnya agreagat terdiri dari campuran 2 jenis material meskipun berasal dari sumber (quarry) yang sama. Sebut saja yang agak keras bewarna abu-abu, sedangkan yang agak lunak bewarna merah. Setelah 100 putaran, sebenarnya agregat bewarna merah sudah habis terabrasi sehingga sisa 400 putaran berikutnya hanya meng-abrasi agregat bewarna abu-abu.

Dalam AASHTO T96-87 disebutkan bahwa untuk mengetahui homogenitas agregat maka perlu dilakukan pengujian abrasi sampai 100 putaran sebelum total 500 putaran. Nilai Abrasi pada 100 putaran harus 20% Nilai Abrasi 500 putaran. Namun ketentuan ini tidak terdapat dalam Manual Pemeriksaan Bahan Jalan. Disarankan agar selalu merujuk pada AASHTO meskipun Manual Pemeriksaan Bahan Jalan atau SNI dalam bahasa Indonesia lebih mudah dipahami. Bagaimanapun juga standar-standar nasional merupakan hasil adopsi dari standar-standar asing seperti AASHTO, ASTM dsb.

 Indeks Plastisitas yang Salah

Indeks Platisitas = Batas Cair – Batas Plastis.
Dalam pengujian Batas Cair diperlukan alat pengetuk dengan landasan karet keras (hard rubber), bilamana landasan tersebut bukan terbuat dari karet keras maka akan diperoleh hasil pengujian  Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang berbeda. 

Dalam pengujian Batas Platis benda uji dipilin-pilin dengan telapak tangan sampai mencapai diameter 3 mm, bilamana diameter tersebut tidak diukur dengan jangka sorong maka akan diperoleh hasil pengujian yang berbeda.

Yang terpenting lagi adalah material yang digunakan dalam pengujian ini harus lolos ayakan No.40. Seringkali material yang diangggap agregat halus tidak diayak terlebih dahulu dengan ayakan no.40 sehingga diperoleh hasil pengujian Konstruksi Bangunan Proyek Jalan  yang salah (Indeks Plastisitasnya lebih rendah dari yang sebenar-nya).

No comments:

Powered by Blogger.