Header Ads

HOT !
recent

Kesalahan Pengukuran Proyek Konstruksi

  Sumber- sumber Kesalahan
Beberapa kesalahan sistematis yang bersumber dari kesalahan yang mungkin terdapat pada suatu alat Theodolite, diantaranya adalah :
1.           Kesalahan miringnya sumbu I (sumbu tegak)
Yaitu bila kedudukan sumbu I miring terhadap unting-unting alat, atau dengan kata lain bahwa sumbu I tidak sejajar dengan arah garis gayaberat.
2.           Kesalahan miringnya sumbu II (sumbu mendatar) ,
Yaitu bila kedudukan sumbu II tidak tegak lurus terhadap sumbu I
3.           Kesalahan kolimasi
        Yaitu bila garis bidik tidak tegak lurus terhadap sumbu II
4.           Kesalahan eksentrisitas
        Yaitu bila kedudukan pusat sumbu I (pusat nonius) tidak tepat berhimpit dengan pusat lingkaran skala horizontal.
5.           Kesalahan diametral
Yaitu bila letak nonius I tidak tepat berhadapan dengan nonius II
6.           Kesalahan indeks.
Yaitu tidak tepatnya letak indeks bacaan lingkaran skala vertikal, bila mana teropong diarahkan secara horizontal (mendatar) diperoleh harga bacaan pada lingkaran skala vertikal tidak dapat menunjukkan arah 0o (pada sistem sudut miring) atau tidak tepat menunjuk angka 90o (pada sistem sudut zenith)
7.           Kesalahan pembagian skala, yang umumnya kesalahan langsung dari pabrik

Kesalahan yang terjadi pada pengukuran


Kesalahan-kesalahan sistematis tersebut di atas dapat dieliminir (dapat dihilangkan) secara langsung di lapangan dengan menggunakan metoda pengukuran tertentu, yaitu :
1.           Bila suatu sudut diukur dengan cara  pengukuran satu seri rangkap (pengukuran sudut pada posisi B dan LB) maka harga sudut rata-rata yang diperoleh dari bacaan biasa dan luar biasa ((B + LB)/2), bebas dari kesalahan
·         Miringnya sumbu I
·         Kolimasi
·         Diametral
·         Kesalahan indeks (bila yang diukur sudut vertikal)
2.           Bila dilakukan pembacaan sudut pada nonius I dan pada nonius II, maka  harga sudut rata- ratanya bebas dari kesalahan eksentrik (eksentrisitas)

3.1.2                Jenis- jenis Kesalahan
  • Kesalahan si pengukur
  • Kesalahan alat ukur
  • Kesalahan karena pengaruh refraksi dan kelengkungan bumi

3.1.2.1            Kesalahan si pengukur
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan si pengukur dalam melakukan pengukuran, antara lain:
  • Pengukur mempunyai panca indera (mata) yang tidak sempurna
  • Pengukur kurang cermat, kurang hati-hati dan lalai serta tidak paham dalam menggunakan alat ukur dan dalam melakukan pembacaan rambu

3.1.2.2            Kesalahan alat ukur
·         Kesalahan garis bidik
                 Kesalahan  garis bidik adalah kesalahan yang terjadi akibat tidak sejajarnya garis bidik dengan garis nivo. Pada alat ukur Waterpass walaupun telah dirancang sedemikian rupa dan tidak dapat digerak-gerakkan dalam arah vertikal sehingga diharapkan pengukuran beda tinggi lebih teliti, namun kesalahan garis bidik yang mungkin terjadi sebaiknya tetap diperhitungkan, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil pengukuran beda tinggi yang dilakukan.
                 Kesalahan garis bidik merupakan kesalahan sistematis yang bersumber dari alat. Oleh karena itu, harganya dapat diketahui dengan jalan pengecekan khusus yang harus dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan sesudah melakukan pengukuran sipat datar dalam satu hari pengukuran.
·         Kesalahan nol rambu
                 Pada umumnya dalam melakukan pengukuran sipat datar, digunakan dua rambu ukur. salah satu atau kedua rambu ukur tersebut karena sering dipakai menyebabkan bagian bawah rambu (disekitar skala nol) ada yang telah aus dan akibatnya panjang rambu lebih pendek dari yang sebenarnya.
                 Kesalahan nol rambu dapat secara langsung  dieliminir di lapangan, dengan jalan membagi seksi dalam jumlah genap dan meletakkan rambu secara selang-seling. Dengan cara demikian, rambu yang diletakkan pada titik awal (belakang) akan berfungsi sebagai rambu muka pada seksi terakhir atau ditempatkan pada titik akhir ukuran.
·         Kesalahan miringnya rambu
                 Bila rambu tidak berdiri betul-betul tegak, akan mengakibatkan hasil pengukuran sipat datar  tidak lagi benar karena dipengaruhi oleh kesalahan miringnya rambu. Oleh karena itu pada waktu pengukuran harus diusahakan agar rambu benar-benar tegak, sebab kesalahan akibat kemiringan rambu tidak dapat dieliminir langsung di lapangan.
·         Kesalahan pembagian skala rambu

                 Pembagian skala pada rambu seharusnya adalah sama untuk setiap intervalnya, apabila ada interval yang tidak sama maka rambu tersebut memiliki kesahahan pembagian skala. Kesalahan tersebut tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu  gunakanlah rambu yang baik dalam pengukuran.

No comments:

Powered by Blogger.