Sunday, 20 November 2016

Stabilitas Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan

Hal-hal yang mempengaruhi kinerja Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan adalah stabilitas keseluruhan timbunan, stabilitas internal, penurunan, material dan pelaksanaannya.
Stabilitas Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan
  • Timbunan batu Proyek Konstruksi Bangunan, yaitu timbunan dimana material seluruhnya atau sebagaian timbunan mengandung 25 persen atau lebih volume kerikil atau batu yang berukuran lebih dari 4 inci.
Baca Juga: CHECKLIST PENGAWASAN PEKERJAAN KONSTRUKSI BANGUNAN PASANGAN BATU
  • Timbunan jalan pendekat jembatan Proyek Konstruksi Bangunan, yaitu timbunan dekat jembatan dan dilanjutkan 35 m dibelakang ujung struktur dengan elevasi subgrade selebar penuh timbunan, ditambah akses ramp dengan tanjakan 10 horizontal : 1 vertikal. Timbunan pendekat jembatan juga termasuk timbunan yang diganti pondasinya dgn yang baik ddekat jembatan.
  • Timbunan tanah Proyek Konstruksi Bangunan, yaitu timbunan yang tidak digolongkan pada timbunan batu atau jalan pendekat jembatan tetapi dibuat di atas tanah.
  • Timbunan ringan terdiri dari material recycle yang merupakan bagian terbesar volume timbunan dan timbunan dibuat dengan persyaratan khusus.
  • Timbunan baru Proyek Konstruksi Bangunan, sebagai konstruksi akan menambah beban terhadap tanah di bawahnya dan menyebabkan tanah menurun. 
Total penurunan mempunyai tiga komponen potensial yaitu :
1. Penurunan langsung
2. Penurunan konsolidasi
3. Secondary compression (pemampatan kedua).
Penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan dapat diperkirakan untuk semua timbunan. Meskipun timbunan mempunyai faktor stabilitas keseluruhan, kinerja timbunan jalan raya dapat menurun disebabkan pengaruh penurunan differensial yang berlebihan pada permukaan jalannya.


Analisis penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan di atas tanah lunak memerlukan parameter indeks kompresi. Parameter ini biasanya didapat dari pengujian standar cone dimention oedometer untuk tanah bergradasi halus. Untuk tanah granular, parameter ini dapat diperkirakan secara empiris.

Karena konsolidasi utama dan kompresi kedua dapat terus berlanjut setelah timbunan dibuat (penurunan post kontruksi), maka hal ini menjadi perhatian didalam disain dan pelaksanaannya. Apabila konsolidasi utama diizinkan terjadi sebelum penempatan utilitas atau struktur bangunan yang dapat berpengaruh pada penurunan, maka pengaruh ini harus diminitor. 


Namun demikian penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan dapat terjadi dalam seminggu sampai setahun, sampai penurunan utama selesai, sedangkan secondary compression tanah organik dapat berlanjut sampai satu dekade. Parameter kunci untuk mengevaluasi besarnya penurunan di bawah timbunan membutuhkan pengetahuan antara lain
  • Profil bawah permukaan tanah termasuk jenis tanah, lapisannya, tinggi muka air tanah dan berat isi;
  • Indeks kompresi untuk kompresi utama, rebound dan secondary compression dari data pengujian laboratorium, korelasi dari sifat indeks, dan hasil monitoring program penurunan yang telah selesai untuk lokasi yang berdekatan dengan kondisi tanah yang sama.;
  • Bentuk geometris timbunan yang direncanakan, termasuk berat isi material timbunan dan beban timbunan jangka panjang.


Profil tanah biasanya dibagi dalam beberapa lapisan untuk analisis, yang setiap lapisan menandakan perubahan sifat tanah. Sebagai tambahan, lapisan yang tebal dengan sifat yang sama, dibagi untuk analisa perhitungan penurunan yang lebih teliti, didasarkan atas kondisi tegangan pada titik tengah lapisan (biasanya cocok untuk evaluasi dekat perkerasan, untuk tebal lapisan 7 meter dibagi dua, sedang tebal lapisan 3,5 diambil satu). total Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan merupakan jumlah dari setiap lapisan kompresibel. 

Bila tegangan prekonsolidasi suatu lapisan yang dievaluasi lebih besar dari tegangan efektif awal, penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan akan mengikuti kurva rebound compression bukan kurva virgin compression (yang dinyatakan dalam Cc). Tekanan preconsolidasi yang berlebihan dari tekanan efektif vertikal saat ini, terjadi pada tanah yang mengalami overkonsolidasi, seperti pada pembebanan glacial, preloading atau desication.



Untuk tanah organik dan mempunyai plastisitas tinggi harus mempertimbangkan komponen secondary settlement. Perlu dicatat bahwa secondary compression umumnya tergantung pada bentuk tegangan dan secara teori merupakan fungsi hanya dari indeks secondary compression dan waktu Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.