Thursday, 10 November 2016

Tahapan Pelaksanaan Pengukuran Detail Situasi Proyek Konstruksi

Pada objek ini tujuan yang utama adalah penyajian gambar dalam bentuk peta dengan menggunakan aplikasi suatu dasar-dasar teritris  yaitu pemetaan situasi dan detail.
Pemetaan situasi suatu daerah mencakup penyajian bentuk dalam dimensi horizontal dam vertikal secara bersama-sama dalam suatu gambar peta. Maksud dari pengukuran ini adalah memindahkan gambaran dari permukaan bumi kedalam suatu bidang gambar (kertas gambar).

Detail-detail situasi yang perlu diamati dan dipetakan adalah :
1               Unsur-unsur buatan alam
a.       garis pantai, danau dan batas rawa
b.       Batas-batas tebing atau jeram, batas hutan
c.       dll.
2               Unsur-unsur buatan manusia
a.       Bangunan
b.       Jalan
c.       Batas sawah
d.       Saluran irigasi
e.       Batas kepemilikan tanah.

Tahapan pelaksanaannya Detail Situasi


Dalam pengukuran detail situasi, perlu dilakukan pengukuran terhadap beberapa hal, yaitu:
1.      Penentuan titik dasar.
Peta situasi ini harus terikat pada sistem kerangka yang telah diketahui sebelumnya yang berfungsi sebagai acuan.
2.      Pengukuran kerangka horizontal (sudut dan jarak)
Umumnya untuk peta yang tidak terlalu besar, dipakai kerangka poligon.
3.      Pengukuran beda tinggi
Pengukuran beda tinggi (kerangka vertikal) selalu mengikuti kerangka dasar horizontal yang telah dibangun terlebih dahulu.

Pengkuran detail dengan data yang diambil meliputi:
Ø Sudut antara sisi kerangka dengan jarak ke titik detail yang bersangkutan.
Ø Jarak optis atau pita  ukur antara titik kerangka dengan detail
Ø Beda tinggi antara titik tetap kerangka dengan titik detail yang bersangkutan.

Dalam pemetaan situasi, kerangka dasar vertikal selalu  mengikuti kerangka dasar horizontal yang telah dibangun sebelumnya. Berikut metoda-metoda pengukuran kerangka dasar horizontal:

1.      Metoda Triangulasi
Merupakan cara untuk menentukan koordinat titik di lapangan dengan cara mengukur sudut-sudut pada suatu kerangka dasar dengan bentuk berupa rangkaian segitiga yang mempunyai satu atau lebih titik sentral.

2.      Metoda Jaring Segitiga
Penentuan titik di lapangan dengan cara mengukur sudut-sudut dalam jaringan segitiga yang mempunyai satu titik sentral.
3.      Metoda Trilaterasi
Penentuan titik kerangka horizontal yang berbentuk rangkaian segitiga di lapangan dengan cara mengukur jarak sisi kerangka tersebut.


Tahapan pelaksanaannya meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.         Siapkan alat dan keperluan pengukuran.
2.         Lakukan orientasi terhadap daerah atau medan yang akan diukur, sketsalah secara kasar untuk membantu dalam penandaan tititk dan keteraturan dalam pengukuran.
3.         Tentukan titik target yang akan jadi kerangka poligon. Dirikan alat pada titik awal dengan sempurna (sentring alat)
4.         Posisikan alat pada kedudukan biasa, bidik titik belakang (patok belakang) untuk pembacaan benang atas, benang tengah, benang bawah , kemudian nolkan bacaan sudut horizontalnya lalu catat sudut horizontal ( 0o) dan vertikal.
5.         Arahkan teropong ketitik depannya (patok depan), kemudian baca bacaan benang, sudut vertikal dan sudut horizontalnya.
6.         Lakukan pengukuran jarak secara manual dengan menggunakan pita ukur (meteran)  yaitu dari titik berdirinya alat ketitik/patok belakang dan ke titik/patok didepannya. Pengukuran ini dilakukan dengan cara pulang-pergi. Pada saat pengukuran pita ukur (meteran) haruslah tegang , lurus dan datar.
7.         Pada titik yang sama, ubah posisi alat menjadi luar biasa, kemudian baca bacaan benangnya, sudut vertikal dan sudut horizontalnya.
8.         Kemudian arahkan lagi teropong ketitik belakang, kemudian baca bacaan benang, sudut vertikal dan sudut horizontalnya.
9.         Buatlah sketsa terlebih dahulu.Masih pada titik yang sama posisikan alat dalam keadaan biasa , kemudian pada sketsa yang telah dipersiapkan, rencanakanlah pembidikan yang teratur terhadap objek-objek alam (unsur-unsur buatan alam, unsur-unsur buatan manusia, dan pada titik-titik ekstrim) yang akan dipetakan dengan mencantumkan abjad/nomor pada batas-batas yang telah ditentukan. Usahakan pembidikan tetap teratur searah dengan putaran jarum jam, menurut nomor untuk tidak menimbulkan kekacauan dalam penulisan data pada formulir atau dalam penggambaran.
10.     Kemudian lakukan pembidikan terhadap titik detail situasi yang telah ditentukan dengan metoda radial.
11.     Data-data yang perlu dicatat  dan diamati adalah bacaan benang, sudut vertikal dan sudut horizontal.
12.     Untuk tempat atau gedung yang bentuknya teratur, tidak perlu pada semua titik sudut bangunan dibidik dengan Theodolite, tapi ambil saja data yang diukur dengan menggunakan alat ukur jarak (meteran) . Ambil data selengkap mungkin.
13.     Pindahkan data hasil pengamatan ke dalam data form, penomoran pada formulir dicatat dan harus sama atau sesuai dengan data yang dibuat pada sketsa.
14.     Ukur tinggi alat dari permukaan tanah.

15.     Pindahkan alat ke titik berikutnya (patok depan) kemudian lakukan hal yang sama seperti langkah-langkah di atas.

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.