Wednesday, 16 November 2016

Tanah Bergradasi Kasar Proyek Konstruksi


Tanah bergradasi kasar dalam proyek konstruksi bangunan diklasifikasi baik untuk kerikil maupun pasir, tergantung apakah ada atau tidaknya prosentase butiran kasar yang lebih besar atau lebih kecil dari ukuran saringan 0,19 inci (4,75 mm). 

Tanah dikatakan kerikil bilamana prosentase perkiraan butiran kerikil lebih besar dari butiran pasir. Sedangkan tanah dikatakan pasir bilamana prosentase perkiraan ukuran butiran pasir lebih besar dari ukuran butiran kerikil. 

Bila tanah dalam proyek konstruksi bangunan diklasifikasi sebagai kerikil, lalu diklasifikasi lagi apakah bersih atau kotor. Kotor berarti bahwa kerikil mengandung cukup besar (lebih dari 10 %) jumlah material yang lolos saringan 0,003 inci (0,075 mm), dan dikatakan bersih berarti kerikil secara esensi bebas dari ukuran halus (kurang dari 10 %). 
Pemakaian istilah bersih dan kotor hanya untuk membedakan saja dan harus tidak dipakai deskripsi yang ada pada log lapangan.


Apabila kerikil dalam proyek konstruksi bangunan adalah bersih lalu menerapkan kriteria gradasi apakah bergradasi baik (GW) atau gradasi jelek (GP). Bergradasi baik didefinisi bila tanah mempunyai sebaran yang lebar ukuran butiran dan mengandung sejumlah ukuran butiran menengah. Bergradasi jelek didefinisikan bila tanah mengandung paling dominan satu ukuran butiran (gradsi seragam), atau mempunyai rentang ukuran butiran dengan beberapa bagian hilang (gradasi senjang).

Sekali penentuan gradasi dalam proyek konstruksi bangunan ditetapkan, klasifikasi dapat dihaluskan dengan memperkirakan prosentase ukuran butiran pasir yang ada dalam sample. Apabila kerikil kotor lalu akan lebih penting menentukan apakah bagian halusnya mengandung lanau atau lempung. Bila bagian halus ditentukan sebagai lanau, maka kerikil akan diklasifikasi sebagai silty gravel/kerikil kelanauan (GM). Bila bagian halus ditetapkan sebagai lempung, maka kerikil akan diklasifikasi sebagai clayly gravel /kerikil kelempungan (GC).


Setelah penentuan dibuat apakah bagian halus merupakan lanau atau lempung, klasifikasi dapat diperhalus lagi dengan memperkirakan prosentase adanya butiran ukuran pasir pada sample dalam proyek konstruksi bangunan

Tanah diklasifikasi sebagai pasir dalam proyek konstruksi bangunan, kriteria yang sama dipakai pada kerkil, dengan mengunakan kriteria bersih atau kotor. Bila pasir bersih, kriteria gradasi ditentukan dalam bentuk pasir bergradasi baik (SW) dan pasir bergradasi jelek (SP). Setelah penentuan gradasi dibuat, klasifikasi dapat dilanjutkan dengan memperkirakan prosentase butiran ukuran halus yang ada dalam sample. Bila pasir kotor lalu akan penting menentukan apakah yang halus adalah lanau atau lempung. Apabila bagian halus adalah lanau, maka pasir akan diklasifikasi sebagai silty sand/pasir kelanauan (SM); 


Sebaliknya bila bagian yang halus adalah lempung, maka pasir akan diklasifikasi sebagai clayey sand/pasir kelempungan (SC). Setelah penentuan dibuat apakah bagian halus adalah lanau atau lempung, klasifikasi selanjutnya diperhalus dengan memperkirakan prosentase butiran ukuran kerikil pada sample. Hal ini digunakan untuk mengidentifikasi tanah berbutir kasar.
Tanah Bergradasi Kasar
Klasifikasi tanah berbutir kasar seperti tercantung pada Tabel dibawah tidak mengindikasi adanya bongkahan dan kerakal dalam masa tanah. Bila karakal/bongkahan terdeteksi, apakah secara visual atau dalam test pit atau terindikasi saat melakukan pengeboran, hal ini harus dilaporkan pada log lapangan setelah deskripsi tanah utama.

Deskripsi yang digunakan sebagai berikut :

Dengan kerakal – Bila hanya ada kerakal

Dengan bongkah – Bila hanya ada bongkah
Dengan kerakal dan bongkah – Bila ada keduanya baik kerakal dan kerikil

Demikinalah Penjelasan Tanah Bergradasi Kasar Proyek Konstruksi

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.