Sunday, 18 December 2016

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOAGULASI AIR BERSIH

Salah satu kebutuhan pokok bagi manusia dalam kehidupannya adalah air bersih. Di beberapa kota besar kebutuhan air bersih ini banyak diperoleh dari layanan PDAM melalui jaringan perpipaan. Namun demikian layanan PDAM tersebut dirasa masih kurang mencukupi. Menurut data yang diperoleh, layanan air minum dengan sistem konstruksi perpipaan, yang relatif aman dari segi kualitas dan kontinyuitasnya, baru mencapai 39% di perkotaan dan hanya 8% di pedesaan.

Karena layanan PDAM yang masih sangat terbatas tersebut maka pada kenyataannya masih banyak penduduk di Indonesia yang kesulitan untuk mendapatkan konstruksi air bersih, terutama penduduk yang hidup di daerah pesisir dan daerah terpencil. Penduduk di pedesaan sampai saat ini masih banyak yang memanfaatkan air sungai atau air saluran irigasi sebagai air bersihnya, misalnya untuk mencuci, mandi, memasak bahkan untuk air minum.

Hal ini sangat menyedihkan, karena ditinjau dari segi kualitasnya air sungai atau air saluran irigasi pada umumnya tidak layak untuk dimanfaatkan sebagai air minum(9). Air sungai atau air irigasi umumnya sangat keruh dan mengandung bahanba

han pencemar yang berasal dari erosi tanah dan hasil penguraian bahan-bahan organik.Selain itu,konstruksi air sungai dan air selokan seringkali juga mengandung bahan pencemar dari limbah industri dan limbah rumah tangga akibat perkembangan industri dan kegiatan rumah tangga. Untuk mendapatkan air yang kualitasnya baik bagi keperluan domestik maka air sungai atau air saluran tersebut harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
KOAGULASI AIR

Pengolahan Air
Konstruksi Pengolahan air merupakan suatu proses untuk mengubah air baku misalnya air sungai yang kualitasnya kurang baik menjadi air minum yang kualitasnya baik sesuai persyaratan yang berlaku. Persyaratan untuk air minum mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 (4). Proses pengolahan air dalam skala besar biasanya dilakukan oleh PDAM atau industri antara lain dengan cara koagulasi, pengendapan dan penyaringan.

Flokulasi dan Koagulasi
Koagulasi adalah proses penambahan bahan koagulan ke dalam air baku agar partikel koloid yang menyebabkan kekeruhan air tersebut dapat menggumpal membentuk partikel yang lebih besar sehingga mudah mengendap. Proses penggumpalan partikel menjadi gumpalan yang lebih besar (flok) ini disebut proses flokulasi. Setelah terjadinya proses flokulasi kemudian disusul dengan proses koagulasi (pengendapan).

Bahan koagulan yang sering digunakan untuk mengolah air baku menjadi air bersih adalah: aluminium sulfat, sodium aluminat, poly aluminium chloride (PAC) feri sulfat, feri klorida dan fero sulfat . Pada proses pengendapan ini partikel koloid pada medium air turun ke bawah sambil membawa bahan pencemar. Akibatnya air menjadi jernih dan bahan pencemar sangat berkurang.
  
Faktor-faktor yang mempengaruhi Konstruksi koagulasi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses koagulasi adalah suhu air, pH air, kekeruhan dan garam-garam yang terlarut dan kondisi pengadukan .
a. Suhu air
Informasi mengenai adanya pengaruh suhu terhadap proses koagulasi masih relatif sedikit, terutama pengaruh suhu apabila proses koagulasinya terjadi pada suhu yang mendekati titik bekunya. Secara teoritis, apabila suhu air turun, maka viskositas air akan naik, sehingga kecepatan mengendapnya flok juga akan berkurang.
b.pH air
pH merupakan salah faktor yang sangat penting yang dapat mempengaruhi berlangsungnya proses koagulasi. Menurut para peneliti, sedikitnya ada satu daerah pH tertentu untuk setiap jenis air yang memungkinkan proses koagulasi flokulasi berlangsung dengan baik. Oleh karena itu sebaiknya proses koagulasi dilakukan pada zona pH optimum. Kesalahan pemilihan pH optimum pada proses koagulasi merupakan pemborosan bahan kimia serta kurang efisiennya proses pengolahanair air.
c. Alkalinitas
Alkalinitas juga sangat berperan dalam proses koagulasi. Alkalinitas dapat membantu proses pembentukan flok karena peranannya memproduksi ion hidroksida pada hidrolisis koagulan.
d. Kekeruhan air
Kekeruhan di dalam air permukaan sebagian besar terdiri atas lempung dan partikel mineral lainnya. Kekeruhan air baku berpengaruh terhadap dosis koagulan yang diperlukan dalam pengolahan air. Dosis koagulan yang diperlukan akan naik sesuai dengan meningkatnya kekeruhan, akan tetapi jumlah koagulan yang perlu ditambahkan ini tidak berbanding lurus dengan peningkatan kekeruhan. Pada air yang sangat keruh kemungkinan terjadinya tumbukan antar partikel semakin besar, sehingga terjadinya pengendapan cenderung lebih cepat dan dosis koagulan yang perlu ditambahkan relatif lebih sedikit.
e. Garam terlarut di dalam air baku
Secara umum air alami mengandung garam-garam anorganik terlarut dengan kadar dan komposisi yang bervariasi. Adanya garam tertentu yang terlarut di dalam air dapat mengubah rentang pH optimum koagulasi, waktu terbentuknya koagulasi dan dosis optimum koagulan. Penambahan ion sulfat ke dalam air yang akan diolah, akan memperlebar daerah pH optimum proses koagulasi.
f. Pengaruh pengadukan
Ada dua macam pengadukan yang umum digunakan, yaitu pengadukan cepat + 100 rpm dan lambat + 40 rpm. Pada umumnya pengadukan cepat dilakukan selama 2-3 menit dan berfungsi untuk menghomogenkan dispersi koloid, sedangkan pengadukan lambat dilakukan selama 20-30 menit, dimaksudkan agar terjadi kontak antar partikel hingga membentuk partikel yang lebih besar yang cepat mengendap

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.