Friday, 23 December 2016

POLA KERUNTUHAN PONDASI DANGKAL


Sipilpoin. Dalam Dunia Konstruksi bangunan, khususnya kontruksi bangunan sederhana, setiap bangunan sederhana selalu mempunyai pondasi dangkal. Seiring perkembangan waktu, pondasi dangkal utnuk bangunan sderhana tersebut akan mengalami kerusakan atau keruntuhan, baik pada saat pemasangan ataupun setelah pemasangan pondasi dangkal tersebut.


Secara umum, pondasi dangkal bangunan rumah sederhana seperti pondasi setempat (spread footing), lajur (strip footing), atau plat penuh (mat foundations) akan mengalami tiga jenis pola keruntuhan,pola keruntuhan tersebut tergantung dari jenis tanah dan kepadatannya. Ketiga pola keruntuhan pondasi tersebut sebagai berikut.

Keruntuhan geser umum (general shear failure). Pada konstruksi bangunan sederhana , Keruntuhan ini terjadi pada lapisan pasir padat (dense sands) atau lapisan lempung kaku (stiff clays). Bidang kelongsoran pada pondasi dangkal ini terjadi mulai dari dasar pondasi sampai ke permukaan tanah di sekitar pondasi dan keruntuhan terjadi secara tiba-tiba (Gambar 1.1 .a dan 1.1 .a’).
KERUNTUHAN PONDASI DANGKAL

Keruntuhan geser lokal (local shear failure). Pada konstruksi bangunan sederhana, Pola keruntuhan ini terjadi pada pondasi bangunan sederhana yang terletak di atas lapisan pasir yang kurang padat atau lapisan tanah lempung. Bidang kelongsoran pada pondasi dangkal yang terjadi pada pola ini tidak merambat sampai ke permukaan tanah, namun pondasi dangkal ini akan turun secara tiba-tiba bila beban pondasi dangkal banunan sederhana melampaui kekuatan kritisnya (Gambar 1.1 .b dan 1.1 ,b’).

Keruntuhan geser pons (punching shear failure)Pada konstruksi bangunan sederhana ini, Pola keruntuhan yang terjadi adalah setempat, ditandai dengan teijadinya penurunan yang besar tanpa adanya kerusakan tanah di sekitar pondasi dangkal tersenut (Gambar 1.1.c dan 1.1.c’). Keruntuhan  pada pola ini dapat terjadi pada tanah jenis pasir lepas dan tanah lempung yang sensitif, yaitu tanah lempung yang memiliki rasio kekuatan maksimum dalam kondisi tidak terganggu (undisturb).

Beberapa perumusan daya dukung pondasi bangunan sederhana yang ada diturunkan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda, tergantung dari bentuk geometerik pondasi dan kondisi lapisan tanah di bawah pondasi tersebut. Oleh karena itu, biasanya dalam merancang daya dukung pondasi dangkal pada bangunan sederhana sebaiknya digunakan dua atau lebih metode/perumusan yang berbeda, hal ini dimaksudkan untuk menambah tingkat keyakinan pada hasil desain/ perhitungan agar diperoleh kekuatan yang maksimum pada pondasi dangkal tersebut. 

Namun pada umumnya, perumusan daya dukung pondasi dangkal didasarkan pada pola keruntuhan geser umum, yaitu terjadinya kerusakan tanah, mulai dari bawah pondasi dan merembet sampai ke permukaan tanah di sekitar pondasi dangkal tersebut. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan pondasi dangkal antara lain bahwa elevasi dasar pondasi harus di bawah:
  • pada pondasi dangkal, harus mempertimbangkan batas beku tanah yang mungkin terjadi pada musim dingin (untuk negara yang mempunyai 4 musim),
  • pada pondasi dangkal bangunan sedrhana, zona yang berpotensi mengalami perubahan volume yang besar akibat perubahan kadar air di dalam tanah (tanah expansive),
  • lapisan tanah organik, hal ini akan memaksimalkan rancangan untuk desain perencanaan pondasi dangkal tersebut.
  • lapisan tanah gambut (peat), 
  • material yang tidak dapat dikonsolidasi (sampah). dalam pemasangan pondasi dangkal, pemasangannnya harus membersihkan material sampah. sehinga didapatkan kekuatan tanah dasar yang maksimum.
Demikianlah penjelasan POLA KERUNTUHAN PONDASI DANGKAL. semoga bisa menambah ilmu rekan-rekan dalam dunia teknik sipil. Jika ada pertanyaan dan tanggapan silakan berkomentar. Terima Kasih

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.