Sunday, 18 December 2016

SIFAT FISIK AGREGAT

Pada campuran beraspal, agregat memberikan konstribusi sampai 90 – 95% terhadap berat campuran, sehingga sifat-sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu dari kualitas campuran tersebut.

a. Ukuran butir
Ukuran agregat dalam suatu campuran beraspal terdistribusi dari yang berukuran besar sampai yang berukuran kecil.  Semakin besar ukuran maksimum agregat yang dipakai semakin banyak variasi ukurannya dalam campuran tersebut.
SIFAT FISIK AGREGAT

Ada dua istilah yang biasa digunakan berhubungan dengan ukuran butir agregat, yaitu :

  • Ukuran maksimum, yang didefinisikan sebagai ukuran saringan terkecil yang meloloskan 100% agregat.
  • Ukuran maksimum nominal, yang didefinisikan sebagai saringan terbesar yang masih menahan maksimum dari 10% agregat.
Contoh :
Hasil analisa saringan menunjukkan bahwa 100% lolos saringan 25 mm. Agregat paling kasar tertahan pada saringan 19 mm.  Dalam hal ini ukuran maksimum agregat adalah 25 mm dan ukuran maksimum nominal adalah 19 mm.

Istilah yang biasa digunakan sehubungan dengan ukuran agregat adalah :

  • Agregat kasar : Agregat yang tertahan saringan No. 8 (2,36 mm)
  • Agregat halus : Agregat yang lolos saringan no.  8 (2,36 mm)
  • Mineral pengisi : Fraksi dari agregat halus yang lolos saringan no. 200 (0,075 mm) minimum 75% terhadap berat total agregat
  • Mineral abu : Fraksi dari agregat halus yang 100% lolos saringan no. 200 (0,075 mm)

b. Gradasi
Spesifikasi perkerasan jalan mensyaratkan bahwa partikel agregat panas berada pada rentang ukuran tertentu dan untuk masing-masing ukuran partikel harus dalam proporsi tertentu.

Distribusi dari variasi ukuran butir agregat ini disebut gradasi agregat. Gradasi agregat mempengaruhi besarnya rongga dalam campuran dan menentukan workabilitas (sifat mudah dikerjakan) dan stabilitas campuran.

Gradasi agregat ditentukan oleh analisa saringan, dimana contoh agregat harus melalui satu set saringan.  Ukuran saringan menyatakan ukuran bukaan jaringan kawat dan nomor saringan menyatakan banyaknya bukaan jaringan kawat per inchi pesegi dari saringan tersebut.

Gradasi agregat dapat dibedakan atas :

1) Gradasi seragam (uniform graded)
Gradasi seragam adalah gradasi agregat dengan ukuran butir yang hampir sama.  Gradasi seragam ini disebut juga gradasi terbuka (open graded) karena hanya mengandung sedikit agregat halus sehingga terdapat banyak rongga/ ruang kosong antar agregat. Campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki stabilitas yang tinggi, agak kedap terhadap air dan memiliki berat isi yang besar.

2) Gradasi rapat (dense graded)
Gradasi rapat adalah gradasi agregat dimana terdapat butiran dari agregat kasar sampai halus, sehingga sering juga disebut gradasi menerus, atau gradasi baik (well graded). Campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki stabilitas yang tinggi, agak kedap terhadap air dan memiliki berat isi yang besar.

3) Gradasi senjang (gap graded)
Gradasi senjang adalah gradasi agregat dimana ukuran agregat yang ada tidak lengkap atau ada fraksi agregat yang tidak ada atau jumlahnya sedikit sekali. Campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki kualitas peralihan dari keadaan campuran dengan gradasi yang disebutkan di atas.

c. Kebersihan Agregat
Agregat yang kotor akan memberikan pengaruh yang buruk pada kualitas perkerasan jalan, seperti berkurangnya ikatan antara aspal dengan agregat yang disebabkan karena banyaknya kandungan lempung pada agregat tersebut.

Kebersihan agregat dapat diuji di laboratorium dengan analisa saringan basah, yaitu menimbang agregat sebelum dan sesudah dicuci lalu membandingkannya, sehingga akan memberikan persentase agregat yang lebih halus dari 0,075 mm (saringan no. 200).

Pengujian setara pasir (Sand Equivalent Test) adalah suatu metode lainnya yang biasa digunakan untuk mengetahui proporsi relatif dari material langsung yang terdapat dalam agregat yang lolos saringan 4,75 mm (no. 4). Di lapangan, kebersihan agregat sering ditentukan secara visual.

d. Kekerasan
Semua agregat yang digunakan harus kuat, mampu menahan abrasi dan degradasi selama proses produksi dan operasionalnya di lapangan. Agregat yang akan digunakan sebagai lapis permukaan perkerasan harus lebih kecil (lebih tahan) dari pada agregat yang digunakan untuk lapis bawahnya, karena lapisan permukaan perkerasan akan menerima dan menahan tekanan dan benturan akibat beban lalu lintas paling besar.  Untuk itu, kekuatan agregat terhadap beban merupakan suatu persyaratan yang mutlak harus dipenuhi oleh agregat yang akan digunakan sebagai bahan jalan.

Uji kekuatan agregat di laboratorium untuk mengetahui kekuatan relatif agregat biasanya dilakukan dengan uji abrasi dengan mesin Los Angeles (Los Angeles Abration Test), uji beban kejut (Impact Test) dan uji ketahanan terhadap pecah (Crushing Test).

e. Bentuk butir agregat
Bentuk partikel agregat yang bersudut memberikan ikatan antar agregat (aggregates inter locking) yang baik yang dapat menahan perpindahan agregat yang mungkin terjadi. Agregat yang bersudut tajam, berbentuk kubikal dan agregat yang memiliki lebih dari satu bidang pecah akan menghasilkan ikatan antar agregat yang paling baik.

Dalam campuran beraspal, penggunaan agregat yang bersudut saja atau bulat saja tidak akan menghasilkan campuran beraspal yang baik, tapi kombinasi penggunaan kedua bentuk partikel agregat ini sangat dibutuhkan untuk menjamin kekuatan pada struktur perkerasan dan workabilitas yang baik dari campuran tersebut.

f. Tekstur permukaan agregat
Tekstur permukaan agregat selain memberikan sifat ketahanan terhadap gelincir (skid resistance) pada permukaan perkerasan, juga merupakan faktor lainnya yang menentukan kekuatan, workabilitas dan durabilitas campuran beraspal.

Permukaan agregat yang kasar akan memberikan kekuatan pada campuran beraspal karena kekerasan permukaan agregat dapat menahan agregat tersebut dari pergeseran atau perpindahan.

Kekasaran permukaan agregat juga akan memberikan tahanan gesek yang kuat pada roda kendaraan sehingga akan meningkatkan keamanan kendaraan terhadap slip.

Agregat dengan tekstur permukaan yang sangat kasar memiliki koefisien gesek yang tinggi, yang membuat agregat tersebut sulit berpindah tempat sehingga akan menurunkan workabilitasnya.  Oleh sebab itu penggunaan agregat yang bertekstur halus dengan proporsi tertentu kadang-kadang dibutuhkan untuk membantu meningkatkan workabilitasnya.

Lapisan aspal lebih mudah merekat pada permukaan yang kasar, sehingga akan menghasilkan ikatan yang baik antara aspal dan agregat dan pada akhirnya akan menghasilkan campuran beraspal yang kuat.

Tidak ada metode standar untuk menguji tekstur permukaan secara langsung.  Seperti halnya bentuk partikel, tekstur permukaan adalah suatu sifat yang direfleksikan dalam uji kekuatan campuran dan dalam workabilitas dari campuran selama masa konstruksinya.

g. Daya serap agregat
Keporusan agregat menentukan banyaknya zat cair yang dapat diserap agregat. Kemampuan agregat untuk menyerap air dan aspal adalah suatu informasi yang penting yang harus diketahui dalam pembuatan campuran beraspal.

Jika daya serap agregat sangat tinggi, agregat ini akan terus menyerap aspal, baik pada saat maupun setelah proses pencampuran agregat dengan aspal pada mesin pencampur aspal (AMP).  Kondisi ini akan menyebabkan aspal yang berada pada permukaan agregat yang berfungsi untuk mengikat partikel agregat, menjadi lebih sedikit yang akan menghasilkan lapisan (film) aspal yang tipis.  Maka diperlukan aspal lebih banyak untuk campuran beraspal dengan agregat yang porus agar dihasilkan campuran yang baik.

h. Kelekatan terhadap aspal
Kelekatan agregat terhadap aspal adalah kecenderungan agregat untuk menerima, menyerap dan menahan lapisan aspal.

Agregat hidrophobik (tidak menyukai air) adalah agregat yang memiliki sifat kelekatan terhadap aspal yang tinggi.  Contohnya adalah batu gamping dan dolomit.  Sebaliknya, agregat hidrophilik (suka air) adalah agregat yang memiliki kelekatan terhadap aspal yang rendah. Contohnya kuarsit dan beberapa jenis granit.

Ada beberapa metode uji untuk menentukan kelekatan agregat terhadap aspal dan kecenderungannya untuk mengelupas, yaitu :

  • Merendam agregat yang telah diselimuti aspal ke dalam air, lalu diamati secara visual.
  • Tes perendam mekanik, yaitu menggunakan 2 contoh campuran, satu direndam dalam air dan diberikan energi mekanik dengan cara pengadukan, dan satunya lagi tidak.
Kemudian kedua contoh ini diuji kekuatannya dan perbedaan kekuatan antara keduanya dapat dipakai sebagai indikator untuk mengetahui kepekaan agregat terhadap aspal.

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.