Header Ads

HOT !
recent

JENIS KONSTRUKSI ATAP

Sipilpoin. Kali ini sipilpoin akan membahas mengenai jenis-jenis konstruksi dan bahan material untuk atap. Silakan disimak penjelasan berikut:
Konstruksi bangunan penutup atau atap biasanya tidak termasuk dalam konstruksi kuda-kuda. Untuk atap jenis sirap atau lapisan, papan pelapis atap termasuk dalam konstruksi bangunan atap. Bahan Pelat seng atau aluminium dipakai untuk membuat atap bangunan kedap air, terutama pada pertemuan-pertemuan bidang atap, seperti bubungan atau lembah-lembah atap (valleys). Jadi yang termasuk dalam konstruksi atap adalah: bubungan, lembah-lembah dan talang air hujan.
KONSTRUKSI ATAP

Rencana anggran Biaya atap tergantung dari bentuknya, bahan yang dipakai, baik jenis maupun mutunya. Berat dari bahan konstruksi atap harus diketahui karena menentukan konstruksi kuda-kuda dan konstruksi penyangga atap bangunan. Pada tabel dibawah, disajikan berat atap dan jenisnya:
No Jenis bahan atap Berat (kg/m*) Keterangan
1 Felt, setiap lapis 0,73- 1,46 digulung,seluas
2 Ter atau aspal, tiap lapis 0,98- 1,46 ±20 m2
3 Ter dan atap kerikil 4 lapis 19,57
4 Atap digulung mengandung aspal 2,69 - 5,14
5 Atapkanvas 0,73- 1,22
6 Lapisan tembaga No. 22B 6,12
(US gauge)
1 Seng gelombang, 22 (US gauge)' 8,56
2 Seng gelombang, 24 (US gauge) 7,09
3 Seng gelombang, 26 (US gauge) 5,63
4 Seng gelombang, 28 (US gauge) 4,89
5 Atap timah,tebal 1/8” 36,70
6 Kaca.tebal 1/8” 8,56
7 Sirap, asbes 9,79
8 Sirap,aspal 7,34 - 19,57
9 Sirap, kayu 9,79 dibundel
10 Sirap, slate (batu tulis) 22- 34,25
11 Genting, tanah liat atau cement 39,14 - 58,71
Jenis konstruksi atap:
Lapisan yang berupa lembaran yang digulung (roofing paper and roofing felt):
Konstruksi atap jenis ini, Kertas bahan atap bangunan digulung dengan berat dan ukuran yang berbeda- beda. Ada yang berukuran ± 10 m2,20 m2 dan 40 m2cukup untuk menutupi  atap seluas 10 m2,20 m2, dan 40 m2 dengan sambungan tumpang sepanjang 5 cm.

Beratnya jenis kertas atap ini sekitar 2,25 kg sampai 13,50 kg tiap luas 10 m2. Dipasang dengan menggunakan paku payung yang panjangnya ± 1,50 cm. Juga lembaran atap (felt) dijual dengan ukuran dan berat yang berbeda-beda. Jenis ini biasanya dilapisi aspal, dipasang dengan menggunakan paku payung yang digalvani untuk mencegah karat dengan panjang ± 1,50 cm.

Sirap kayu:
Konstruksi atap jenis ini, Sirap kayu dibuat dari kayu besi atau kayu jenis lain, lebarnya bermacam-macam dari 10 cm (ukuran normal) sampai 30 cm. Sedang panjangnya sekitar 40 cm, 45 cm sampai 60 cm. Pada umumnya panjangnya tiga kali panjang yang tampak di luar ditambah 3,75 cm sampai 7,50 cm untuk sambungan tumpang sehingga membentuk tiga lapisan atap.

Bahan atap ini dijual dalam ikatan atau dipak di dalam karton di mana satu karton cukup untuk menutup atap seluas 2,25 m2 sampai 4,50 m2. Dipasang dengan menggunakan paku, 2 paku setiap lembar. Keperluan paku biasanya sekitar 1,35 kg - 2,25 kg setiap luas atap 10 m2. Paku yang dipakai jenis anti karat. Kehilangan-kehilangan karena pemotongan-pemotongan sekitar 8%-25% tergantung dari banyaknya bubungan, lembah-lembah dan sambungan-sambungan.

Sirap aspal:
Terbuat dari bahan yang diberi lapisan aspal. Dijual dalam ikatan (bundel) atau dalam karton berisi cukup untuk menutup atap seluas 2,25 m2 sampai 4,5 m2. Bagian yang nampak di atas atap sekitar 10 cm sampai 12,5 cm, panjang sirap ini 30 cm sampai 40 cm. Atap sirap aspal biasa dipasang di atas lapisan kertas atau lapisan dengan bahan khusus. Paku payung berukuran 2,50 cm-4,50 cm dipakai untuk pengikat dengan bidang atap. Banyaknya sekitar 1,15 kg sampai 2,30 kg tiap luas atap 10m2.

Sirap asbes:
Terbuat dari bahan asbes. Bentuknya ada yang hexagon berukuran 40 cm x 40 cm ada yang persegi berukuran 20 cm x 40 cm, ukuran yang biasa 30 cm x 60 cm dan 35 cm x 75 cm. Tiap ikatan (bundel) cukup untuk menutup atap seluas 2,25 m2sampai 4,50 m2. Pan­jang sambungan tumpang 2 cm. Kehilangan bahan akibat pemotongan 8 sampai 25%. Paku yang dipergunakan 1,35 kg sampai 1,85 kg dengan panjang 3,75 cm sampai 4,50 cm untuk bidang atap seluas 10 m2.

Sirap bahan batu tulis (slate shingles):
Bahan sirap ini diambil dari batuan sedimen yang sudah dipadatkan dan mendapat tekanan tinggi secara alami, diambil dalam bentuk lembaran-lembaran tipis. Wama yang diperoleh ada yang hijau, abu-abu, merah, hitam dan lain-lain wama kombinasi.
Bentuknya persegi panjang dengan lebar berkisar antara 15—40 cm dan panjang antara 30 sampai 60 cm. Sambungan tumpang diambil biasanya 7,5 cm. Tebalnya sirap ini antara 0,5 cm sampai 5 cm dengan berat setiap 10 m2 luas sekitar 225 kg sampai 270 kg. Kehilangan karena pemotongan-pemotongan sebesar 5 sampai 25%. Atap jenis ini dipasang di atas lapisan dasar (felt). Paku tembaga dipergunakan dan banyaknya sekitar 1,35 kg sampai 1,80 kg setiap 10m2.

Sirap logam:
Bahan atap ini terbuat dari lembaran-lembaran tipis tembaga atau seng, atau baja galvani. Ukuran dan tebalnya bermacam-macam. Yang terbuat dari tembaga biayanya sekitar 4 sampai 6 kali lebih mahal dari baja galvani.

Genting:
Genting di Indonesia banyak dipakai terutama genting dari tanah liat. Sekarang dibuat juga dari semen. Mempunyai bentuk dan berat serta ukuran yang bermacam-macam.

Atap aspal yang digulung:
Jenis ini mempunyai lebar 80 cm sampai 90 cm dengan panjang sekitar 10 cm sampai 12,5 cm, panjang sirap ini 30 cm sampai 40 cm. Atap sirap aspal biasa dipasang di atas lapisan kertas atau lapisan dengan bahan khusus. Paku payung berukuran 2,50 cm — 4,50 cm dipakai untuk pengikat dengan bidang atap. Banyaknya sekitar 1,15 kg sampai 2,30 kg tiap luas atap 10m2.

Sirap asbes:
Terbuat dari bahan asbes. Bentuknya ada yang hexagon berukuran 40 cm x 40 cm ada yang persegi berukuran 20 cm x 40 cm, ukuran yang biasa 30 cm x 60 cm dan 35 cm x 75 cm. Tiap ikatan (bundel) cukup untuk menutup atap seluas 2,25 m2 sampai 4,50 m2. Pan¬jang sambungan tumpang 2 cm. Kehilangan bahan akibat pemotongan 8 sampai 25%. Paku yang dipergunakan 1,35 kg sampai 1,85 kg dengan panjang 3,75 cm sampai 4,50 cm untuk bidang atap seluas 10 m2.

Sirap bahan batu tulis (slate shingles):
Bahan sirap ini diambil dari batuan sedimen yang sudah dipadatkan dan mendapat tekanan tinggi secara alami, diambil dalam bentuk lembaran-lembaran tipis. Wama yang diperoleh ada yang hijau, abu-abu, merah, hitam dan lain-lain wama kombinasi.

Bentuknya persegi panjang dengan lebar berkisar antara 15—40 cm dan panjang antara 30 sampai 60 cm. Sambungan tumpang diambil biasanya 7,5 cm. Tebalnya sirap ini antara 0,5 cm sampai 5 cm dengan berat setiap 10 m2 luas sekitar 225 kg sampai 270 kg. Kehilangan karena pemotongan-pemotongan sebesar 5 sampai 25%. Atap jenis ini dipasang di atas lapisan dasar (felt). Paku tembaga dipergunakan dan banyaknya sekitar 1,35 kg sampai 1,80 kg setiap 10m2.

Sirap logam:
Bahan atap ini terbuat dari lembaran-lembaran tipis tembaga atau seng, atau baja galvani. Ukuran dan tebalnya bermacam-macam. Yang terbuat dari tembaga biayanya sekitar 4 sampai 6 kali lebih mahal dari baja galvani.

Genting:
Genting di Indonesia banyak dipakai terutama genting dari tanah liat. Sekarang dibuat juga dari semen. Mempunyai bentuk dan berat serta ukuran yang bermacam-macam.

Atap aspal yang digulung:
Jenis ini mempunyai lebar 80 cm sampai 90 cm dengan panjang sekitar 10 m dengan sambungan tumpang selebar 5 cm. Diperlukan 1 kg sampai 2 kg paku payung yang panjangnya 2,50 cm sampai 4,50 cm untuk atap seluas 10 m2. Alas dari atap ini biasanya terbuat dari papan.

Atap komposit:
Atap jenis ini terbuat dari 2 atau 5 lapisan lembaran atap (roofing felt) diselang seling dengan lapisan ter atau aspal. Kadang-kadang diberi lapisan akhir dengan tebaran kerikil yang melekat pada lapisan aspal. Lembaran-lembaran lapisan atap beratnya antara 6,75 kg sampai 18 kg satu lapis tiap 10 m2, tetapi bila akan diberi lapisan kerikil maka berat lapisan aspal sekitar 18 kg sampai 27,25 kg untuk luas bidang atap 10 m2. Berat atap dengan lapisan kerikil sekitar 114 kg — 204,50 kg tiap 10m2.

Menurut pengalaman diperoleh bahwa atap cukup kedap air bila dipasang 2 lapisan lembaran berlapis aspal (asphalt impregnated felt) dengan berat 6,75 kg setiap 10 m2, kemudian dicat dengan aspal panas, setelah itu diberi lapisan akhir yang beratnya 41 kg sampai 47,75 kg tiap 10 m2 terbuat dari lapisan atap aspal bercam- pur mineral yang dijual di pasaran dalam gulungan.

Jenis atap komposit ini biasa dipergunakan pada kemiringan atap yang kecil. Apabila atap terbuat dari beton maka terlebih dahulu dicat dengan aspal, baru di atasnya dipasang selapis lapisan pertama lembaran atap. Biasanya kemudian dipasang lagi lapisan aspal dan lapisan-lapisan lembaran atap lagi. Apabila bidang atap terbuat dari logam yang sudah tua dapat juga dilapisi seperti di atas. Bila bidang atap terbuat dari papan, selapis atap lembaran dipasang terlebih dahulu sebagai dasar.

Atap kanvas:
Jenis atap ini dipasang 2 atau 3 lapis, dijual dalam bentuk gulungan dan berukuran 90 cm lebar dengan panjang sekitar 50 m. Beratnya tiap m2 sekitar 34 gram sampai 68 gram. Atap ini harus diletakkan di atas atap yang rata setelah dicat dasar terlebih dahulu, dan kemudian dicat dengan satu atau dua lapisan akhir.

Atap kanvas dipasang dengan menggunakan paku payung terbuat dari bahan tahan karat yang panjangnya 1,50 cm sampai 2 cm dengan jarak 2,50 cm satu sama lain. Kwantitas bahan hams ditam- bah 8 sampai 12% untuk menutup kehilangan-kehilangan pada pemotongan-pemotongan dari sambungan-sambungan tumpu.

Demikianlah pembahasan tentang JENIS KONSTRUKSI ATAP. Semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan kita bersama. Jika ada pertanyaan dan tanggapan silakan berkomentar. Terima kasih.

No comments:

Powered by Blogger.