Header Ads

HOT !
recent

Jaminan Kecelakaan Kerja Konstruksi

Kecelakaan kerja merupakan risiko yang dihadapi oleh tenaga kerja yang melakukan pekerjaan karena pada umumnya kecelakaan akan mengakibatkan dua hal berikut :
Jaminan Kecelakaan Kerja Konstruksi

1) Kematian, yaitu kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan penderitanya bisa meninggal dunia.
2)  Cacat atau tidak berfungsinya sebagian dari anggota tubuh tenaga kerja yang menderita kecelakaan.  Cacat ini terdiri dari :
  • Cacat tetap, yaitu kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan penderitanya mengalami pembatasan atau gangguan fisik atau mental yang bersifat tetap;
  • Cacat sementara, yaitu kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan penderitanya menjadi tidak mampu bekerja untuk sementara waktu.
Pengertian cacat dalam program Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah sakit yang meng¬akibatkan tidak berfungsinya sebagian anggota tubuh yang tidak bisa sembuh (atau tidak berfungsi lagi), ketidakmampuan bekerja secara tetap atau total dan mengakibatkan timbulnya risiko ekonomis bagi penderitanya.

Dalam menanggulangi hilangnya sebagian atau seluruh penghasilan yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja yang berupa kematian atau cacat tetap atau sementara, baik fisik maupun mental perlu adanya jaminan kecelakaan kerja.

Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan terjadi. Tak terduga karena di belakang peristiwa tersebut tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Tidak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai dengan kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat, baik bagi pengusaha maupun bagi pekerja/ buruh.

Dalam kaitannya dengan kecelakaan kerja, ada suatu jenis kecelakaan yang tidak dapat dikategorikan sebagai kecelakaan kerja.  Jenis-jenis kecelakaan tersebut adalah (Anonim, 1994: 4) sebagai berikut :
  • Kecelakaan yang terjadi pada waktu cuti, yaitu yang bersangkutan sedang bebas dari urusan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Jika yang bersangkutan mendapat panggilan atau tugas dari perusahaan, rnaka dalam perjalanan untuk memenuhi panggilan tersebut yang bersangkutan sudah dijarnin oleh Asuransi Kecelakaan Kerja. 
  • Kecelakaan yang terjadi di mes/ perkemahan yang tidak berada di lokasi tempat kerja.
  • Kecelakaan yang terjadi dalam rangka melakukan kegiatan yang bukan merupakan tugas dari atasan untuk kepentingan perusahaan.
  • Kecelakaan yang terjadi pada waktu yang bersangkutan meninggalkan tempat kerja untuk kepentingan pribadi. Contoh : pergi makan tidak dianggap sebagai kecelakaan kerja, jika perusahaan menyediakan fasilitas makan.
Jaminan Kecelakaan Kerja
Besarnya jaminan kecelakaan kerja telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 1993 yang telah beberapa kali diubah. Terakhir berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2002 besarnya jaminan kecelakaan kerja adalah sebagai berikut :
(a) Santunan
  • Santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) empat bulan pertama 100 persen x upah sebulan, empat bulan kedua 75 persen x upah sebulan dan bulan seterusnya 50 persen x upah sebulan.
  • Santunan cacat, Santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus (Lumpsum) dengan besarnya persen sesuai tabel x 70 bulan upah. Jenis cacat dan besarnya persentase tunjangan yang dapat diberikan kepada pekerja/ buruh yang mengalami kecelakaan kerja dibuat tabel khusus dalam PP No. 14 tahun 1993.
  • Santunan cacat total untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan secara berkala dengan besarnya sesuai ketentuan.
  • Santunan cacat kekurangan fungsi dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dengan besarnya santunan adalah persen berkurangnya fungsi x persen sesuai tabel dalam peraturan pemerintah.
  • Santunan kematian dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan besarnya santunan sesuai ketentuan yang berlaku.
(b)   Pengobatan dan perawatan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk biaya dokter, obat, operasi, rontgen, laboratorium, perawatan puskesmas, rumah sakit umum kelas 1 ; gigi, mata dan jasa tabib/ shinshe/ tradisional yang telah mendapatkan izin resmi dari instansi yang berwenang. Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk satu peristiwa kecelakaan tersebut dibayarkan maksimum Rp. 6.400.000,00.

(c) Biaya rehabilitasi harga berupa penggantian harga pembelian alat Bantu (orthose) atau alat ganti (prothose) sebesar harga yang ditetapkan oleh Pusat Rehabilitasi Prof. Dr. Soeharto Surakarta ditambah empat puluh persen dari harga tersebut.

(d) Penyakit yang timbul karena hubungan kerja/ industri yang besar santunan dan biaya pengobatannya sama dengan (a) dan (b).

(e) Ongkos pengangkutan pekerja/ buruh dari tempat kejadian kecelakaan kerja ke rumah sakit diberikan penggantian biaya sesuai ketentuan yang berlaku.

No comments:

Powered by Blogger.