Wednesday, 12 July 2017

PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU ASPHAL MIXING PLANT (AMP)

Sesuai dengan komponen yang tersedia, terdapat dua jenis AMP, yaitu (1) AMP jenis menerus dan (2) AMP dengan penakaran ( batch ). Tipikal keduanya diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Di Indonesia jenis yang banyak digunakan adalah jenis batch, karena pengendaliannya relatife lebih mudah

Komponen –komponen yang terdapat dalam AMP adalah sebagai berikut :
a. Cold bins
Bagian pertama dari AMP adalah cold nins, yaitu tempat penyimpanan agregat kasar, agregat halus dan pasir. Jenis atau tipe cold bins yang umum dikenal adalah : (1) Jenis ban berjalan yang menerus ( continuous belt type ), (2) Jenis yang getarkan ( Vibratory type ), dan (3) Jenis mengalir apro ( Apron ) flow type.
PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU  ASPHAL MIXING PLANT

Kontinuitas aliran material dari cold bins ini sangat berpengaruh terhadap produksi campuran beraspal, untuk itu perlu pengendalian mutu yang ketat pada cold bins.
Check list pada cold bins meliputi :
  • Gradasi agregat. Perubahan gradasi dapat disebabkan karena perbedaan quari atau supplier. Jika terjadi perubahan gradasi agregat maka harus dilakukan pembuatan JMF kembali.
  • Kondisi dari tiap cold bins. Pencampuran agregat antar bin yang berdekatan dapat dicegah dengan membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih.
  • Kalibrasi bukaan cold bins.
  • Bukaan cold bins. Bukaan cold bins kadang-kadang tersumbat jika agregat halus basah, agregat terkontaminasi tanah lempung, atau penghalang lain yang tidak umum seperti batu dan kayu.
  • Kecepatan conveyor dan pengontrolan aliran agregat dan membuang material yang tidak perlu.

b. Dryer
Dari cold bins agregat dibawa ke dryer yang mempunyai fungsi : (1) menghilangkan kandungan air pada agregat, dan (2) memanaskan agregat sampai suhu yang disyaratkan. Check list yang diperlukan pada bagian ini meliputi :
  • Alat pengukur suhu.
  • Pemeriksaan suhu pemanas.
  • Pemeriksaan kadar air secara cepat ; ambil contoh secukupnya, kemudian lewatkan cermin yang kering, atau spatula diatas agregat tersebut. Amati jumlah kadar air yang mengembun pada permukaan cermin atau spatula.

c. Hot Screen
Setelah agregat dikeringkan dan dipanaskan, agregat diangkat dengan hot elevator untuk disaring dengan saringan bergetar dan dipisahkan dalam beberapa ukuran. Saringan pertama dengan ukuran terbesar berfungsi membuang agregat yang oversize.

Umumnya pada proses penyaringan ini terjadi pelimpahan agregat, misalnya yang semestinya masuk ke hot bin I tertapi terbawa ke hot bin II. Pelimpahan ini pada kondisi normal terjadi kurang dari 5 % dan cenderung konstan sehingga tidak terlalu mengganggu kualitas produksi. 

Akan tetapi prosentase tersebut dapat bertambah jika lubang saringan tertutup agregat, kecepatan produksi ditambah sehingga agregat yang disaring bertambah sementara efisiensi operasi penyaringan tetap, agregat halus basah sehingga pada saat pengeringan dan pemanasan agregat halus tersebut akan menggumpal dan masuk ke hot bin yang tidak semestinya. Kemungkinan lain adalah lubang-lubang pada saringan sudah ada yang rusak, sehingga beberapa agregat masuk ke hot bin yang tidak semestinya.

Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan gradasi dan kadar aspal secara serius. Check list yang perlu dilakukan pada bagian ini adalah : Pengecekan harian secara visual pada kebersihan dan kondisi saringan.

d. Hot Bins
Jika agregat halus masih menyisakan kadar air ( karena burner / dryer kurang baik ) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus ( debu ) akan menempel dan menggumpal pada dinding hot bin dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersbut dapat menyebabkan perubahan kecil pada gradasi agregat, yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 200 ( 0,075 mm ).

e. Weigh Hopper
Pada bagian ini operator AMP sangat berperan. Jika keseimbangan waktu pencapaian berat hot bin sulit tercapai, maka operator harus membuang agregat tersebut dan melakukan pengecekan aliran material mulai dari cold bin. 

Akan tetapi jika ketidak seimbangan waktu tersebut dipaksakan terus berjalan, maka dapat dipastikan akan terjadi penyimpangan gradasi akibat proporsi masing-masing hot bin tidak sesuai. Check list yang dilakukan pada bagian ini adalah :
  • Kalibrasi timbangan, termasuk timbangan aspal.
  • Weigh box tergantung bebas
  • Kontrol harian terhadap kinerja operator AMP.

f. Pugmill
Dalam pugmill terjadi dua jenis pencampuran, yaitu pencampuran kering dan pencampuran basah ( setelah ditambah aspal ). Lamanya pencampuran kering diusahakan sesingkat mungkin untuk meminimalkan degradasi agregat, umumnya 1 atau 2 detik.

Pencampuran basah juga diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari degradasi dan oksidasi. Jika agregat kasar ( tertahan saringan No. 4 ) telah terselimuti aspal maka pencampuran basah dihentikan, karena dapat dipastikan agregat halus juga telah terselimuti aspal ( ASTM D 2489, derajat penyelimutan aspal dilihat dari agregat yang tertahan No. 4 ).

Umumnya waktu pencampuran kurang dari 30 detik. Check list yang dilakukan pada bagian ini adalah :
  • Temperatur aspal ( pada tangki aspal )
  • Lamanya pencampuran
  • Tampak visual campuran yang keluar dari pugmill. Apakah campuran merata, terselimuti aspal, aspal menggumpal, atau pugmill bocor.

Share

& Comment

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © 2015 Sipilpoin™ is a registered trademark.

Designed by Templateism | Templatelib. Hosted on Blogger Platform.